Postingan

Reservasi Untuk Dua

      Pagi ini aku mendengarkan album baru Nadin Amizah yang berjudul Laika, yang ditinggalkan. Lagu Nadin kebanyakan menceritakan tentang hubungan keluarga, pergulatan batin dan perasaan yang ia alami sendiri. Ada satu lagu yang sangat membuatku menangis pagi ini, judulnya "Reservasi untuk dua", lagu tersebut menggambarkan percakapan batin yang dalam, luka masa lalu yang berubah menjadi kemarahan, serta hubungan yang kompleks dengan figur ayah. Luka yang mengeras, liriknya menceritakan tentang rasa perih yang terlalu lama dibiarkan hingga mengeras menjadi kemarahan. Lagu ini merefleksikan hubungan emosional yang intens, rasa sakit dan perjalanan pendamaian diri terhadap figur ayah dalam hidupnya.      Lagu itu sangat sangat persis seperti yang aku lalui sekarang, mencoba bergelut dengan berbagai emosi saat bertemu dengan bapak, ada rasa sayang yang besar, sedih dan sekaligus amarah yang sangat ber api api. Semua menyatu dalam hatiku dan tidak bisa ku utara...

Tentang Waktu

      Sore ini, aku mendapat pertanyaan random dari sahabat ku Martha, ia bertanya " if you could turn back the time km mau balik ke masa apa mba?".. jujur pertanyaan itu bikin aku merenung sejenak dan bertanya juga pada diriku, iya ya, kalau misal aku bisa kembali ke waktu di masa lalu, aku pengen kembali ke masa apa?      Aku jadi mulai bertanya tanya dan sedikit flashback ke masa lalu, setelah beberapa menit aku merenung, aku mulai menyadari satu hal, kalau ternyata sepanjang hidupku penuh dengan pengorbanan, dan karna pengalaman itu, aku jadi merasa tidak punya keinginan untuk kembali ke masa lalu, karna untuk bertahan sampai sekarang saja sudah pencapaian besar, mengapa aku harus kembali lagi ke masa lalu? toh, ini sudah yang terbaik yang bisa kulakukan, dan jika aku ditanya pertanyaan itu, mau kembali ke masa apa? aku akan jawab, kurasa momen paling ku nikmati semasa hidupku adalah saat aku di Bandung. Saat itu aku punya uang, aku punya waktu, aku pu...

Ujian Kebatinan

     Saat manusia menjalani kehidupan di dunia, ia tidak akan pernah lepas dari ujian. Setiap individu, tanpa terkecuali, akan dihadapkan pada berbagai bentuk pencobaan yang telah disesuaikan dengan kapasitas dirinya. Apa yang diberikan oleh Tuhan bukanlah sekadar beban, melainkan sebuah proses peningkatan— untuk membentuk manusia agar menjadi pribadi yang lebih ikhlas, lebih sabar, lebih tenang, lebih kuat dan tangguh dari sebelumnya. Namun, memahami hal ini tidak serta-merta membuat prosesnya menjadi mudah. Menjalani hidup dengan penuh kesadaran, menjaga hati, pikiran, dan tindakan agar tetap berada dalam kebaikan adalah perjalanan yang panjang dan tidak sederhana.      Sering kali, ujian datang melalui berbagai pintu—lewat apa yang kita lihat, apa yang kita rasakan, hingga apa yang kita pikirkan. Ada masa di mana hidup terasa begitu berat, seakan semua arah terasa sempit dan sulit dilalui. Dalam kondisi itu, manusia dihadapkan pada pilihan: menyerah pada...

Secangkir Teh Chamomile

      Pagi ini, aku menyruput teh Chamomile panas, dengan tambahan dua sendok teh madu. Saat membuatnya aku menunggu air mendidih, sambil duduk di pinggir meja, sambil memikirkan "nanti biar teh ku nggak pahit, harus nunggu berapa lama ya?" kalau di rendam terlalu lama, teh chamomile akan terasa pahit, tapi kalau terlalu sebentar, teh tidak mengeluarkan aroma, jadi aku disitu memikirkan keputusanku, karna aku pengen teh ku sempurna pagi ini. Nggak terasa airku udah mendidih, kutuangkan ke cangkir keramik bertekstur batu bersama dengan satu bag tea chamomile. Aku, mulai menunggu, dan melihat proses peluruhan teh di dalam cangkirku, aku menunggu detik demi detik, sambil berharap dalam hati "semoga teh ku enak". Aku mendekat dan mencium aromanya, "hmm.. sepertinya sudah pas". Lalu, aku buang tea bag dan menambahkan dua sendok teh madu akasia kedalamnya, aku angkat cangkirnya ke pinggir meja makan, aku mengaduknya sambil duduk. Aku menikmati asap panas yang te...

Hangat Cahaya Pagi

    Sedikit cerita tentang seseorang yang punya karakter yang mirip seperti matahari pagi. Ya, sangat spesifik seperti matahari pagi. Ia adalah seorang yang hangat, sinarnya tidak menyilaukan, hadirnya membawa ketenangan, dan suaranya lembut seperti hangatnya cahaya pagi yang menyentuh kulit. Dia tidak terlalu terang, tapi tidak juga terlalu redup, hanya cukup, cahayanya ada untuk menghangatkan, kalau berada di dekatnya, rasanya seperti sedang duduk di teras rumah, di pagi hari, ya, rasanya persis seperti itu.      Aku sangat menyukai momen saat bersamanya, bersama manusia berhati lembut dan tulus yang sepertinya sudah jarang di temui di era sekarang ini. Entah kenapa aku selalu merasa nyaman kalo ada dia di dekatku, bahkan berada di kejauhan pun, rasa nyamannya masih bisa di rasakan. Kalo boleh jujur, aku akan berdoa agar aku bisa bersama dia, selalu dengan energi cahaya paginya, hangat nya, dan sifatnya yang lembut.      Baru kali ini aku merasa...

September

      Baru aja aku check, ternyata selama ini aku banyak menulis di bulan September, dan rasanya di bulan inilah diriku berada di puncak perubahan, rasanya seperti terlahir kembali setiap bulan september. Hari ini aku menulis di akhir bulan September, tepatnya tanggal 30-9-2025 di atas tempat tidurku.      Belakangan ini aku jadi merasa lesu, ada rasa rindu pada diriku sendiri, diriku yang dulu, satu tahun lalu, di Bandung. Aku merasa bahagia dan bebas disana, rasanya aku jadi lebih dekat dengan diriku, tidak ada yang mengganggu dan aku bisa memilih melakukan hal-hal yang aku sukai. Nggak terasa, udah hampir setahun yang lalu sejak pertama kali aku ke Bandung. Rasanya pengen kesana lagi, eksplore lagi, dan merasakan udara sejuk dan makanan khas nya lagi. Tapi, itu cuma bisa jadi kenangan manis sekarang, mengingat aku sudah harus menabung untuk masa depan.     Kadang menjadi dewasa adalah hal yang tidak aku sukai, karena menjadi dewasa sama dengan ...

Bunga Tidur

Bacalah sembari memutar lagu Payung Teduh - Tidurlah      Berbaring diam di sudut kamar, menatap langit-langit, membiarkan pikiran berkelana entah ke mana. Memikirkan hidup yang kadang terasa terlalu rumit untuk dipahami. Masalah datang silih berganti, bertabrakan dengan keinginan-keinginan yang tumbuh di dalam hati. Konflik batin pun menjadi tamu setia, hadir di sela hening, menyelinap di balik tawa yang dipaksakan. Tak banyak yang tahu, hanya hati yang diam-diam menanggung beratnya.      Pikiran itu sering datang tiba-tiba, seperti hujan di musim kemarau. Kadang deras, kadang rintik, tapi tetap membasahi. Di malam hari, saat semua terlelap, bunyi detak jam terdengar begitu jelas, mengiringi langkah pikiran yang menelusuri lorong keheningan. Hal-hal yang ingin dilupakan justru hadir makin jelas. Padahal manusia punya banyak rasa untuk diungkapkan, tapi entah kenapa, lidah terasa kelu. Hanya dada yang sesak menahan apa-apa yang tak pernah terucap.  ...